Analisis Konsentrasi Ozon di Stasiun Wilayah Indonesia dari Tahun 2008 - 2018
Ozon merupakan gas tidak berwarna dengan rumus kimia O3. Secara alamiah, ozon tersebar dalam stratosfer dan membentuk lapisan memiliki ketebalan kurang lebih 35 km. Konsentrasi ozon di lapisan stratosfer bervariasi menurut ketinggian. Dibandingkan dengan tebalnya seluruh atmosfer bumi, lapisan ozon ini tergolong tipis. Meskipun demikian, lapisan ozon cukup efisien dalam menyaring semua sinar ultraviolet matahari yang berbahaya bagi makhluk hidup di bumi. Oleh karena itu, lapisan ozon sangat penting bagi kehidupan di bumi terutama makhluk hidup untuk melindungi radiasi dari paparan sinar ultraviolet (Kumalawati et al, 2020).
Pada awalnya, molekul ozon hanya terdapat pada lapisan stratosfer, namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi didapatkan data bahwa molekul ozon telah memasuki lapisan troposfer bumi. Akibatnya molekul ozon pada stratosfer menipis dan berkurang, dimana seharusnya ozon terkonsentrasi di lapisan tersebut. Ozon pada lapisan stratosfer memiliki fungsi sebagai filter dan pelindung bumi dari sinar ultraviolet matahari dengan menyerap energi radiasi sinar UV-B yang mempunyai energi sangat tinggi dan mengubahnya menjadi energi panas sebelum mencapai bumi, sedangkan pada lapisan troposfer bersifat racun atau toksik, polutan bagi makhluk hidup di bumi, dan merupakan salah satu gas rumah kaca yang dapat mengakibatkan kenaikan suhu di permukaan bumi. Ozon pada lapisan troposfer cenderung mengalami perubahan dibandingkan pada lapisan stratosfer. Hal ini dikarenakan aktivitas manusia seperti industri, transportasi, dan pertanian yang merupakan sumber polusi udara. Konsentrasi ozon terbesar sekitar 90 % berada di stratosfer dan 10 % berada di troposfer (Kumalawati et al., 2020).
Penipisan lapisan ozon menjadi isu lingkungan yang menjadi perhatian serius semenjak dilaporkan hasil penelitian dari Schell dan kawan-kawan (1991) yang menunjukkan bahwa lapisan ozon di antartika menurun sebanyak 17 persen antara tahun 1976-1989 saat musim semi dan musim panas, dan berkontribusi pada peningkatan tingkat UV-B yang menghasilkan lubang ozon. Hal ini tentunya akan berdampak pada masalah penipisan lapisan ozon yang sangat berbahaya bagi kehidupan bumi jika terjadi secara terus menerus (Cahyono,2009).
Untuk memantau dan memonitori lapisan ozon, LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung melakukan pengamatan menggunakan Dasibi Ozone Monitor. Data yang diperoleh dapat dilihat melalui World Oxone and Ultraviolet Radiation Data Center dalam web https://woudc.org/data/explore.php. Dari data konsentrasi ozon di Indonesia, diambil data dari tahun 2006-2018 untuk melihat perbandingan konsentrasi rerata ozon total (dalam satuan DU/Dobson Unit) yang dianalisis setiap bulan per tahun. Data yang diperoleh adalah sebagai berikut :
Sehingga, dari data tersebut dapat diketahui grafik antara antara tahun vs konsentrasi ozon total adalah sebagai berikut :Analisis konsentrasi ozon di langit indonesia dapat dilihat dalam grafik rerata konsentrasi ozon per tahun 2006—2018. Data grafik menunjukkan terjadi fluktuasi nilai konsentrsi ozon dengan nilai paling tinggi terjadi pada tahun 2018. Maka diketahui bahwa terjadi kenaikan konsentrasi ozon di langit indonesia. Konsentrasi ozon yang tinggi dapat mengurangi bahaya paparan sinar UV. Sebabnya karena ozon memiliki peran sebagai pelindung dari radisasi UV.
Konsentrasi ozon di lapisan stratosfer yang rendah dapat mengakibatkan tingginya indeks UV. Dalam hal ini mengindikasikan terjadi penipisan lapisan ozon. Penipisan lapisan ozon dipengaruhi oleh maraknya pengunaan bahan perusak ozon (BPO) pada kegiatan manusia, seperti penggunaan HCFC sebagai pengganti sementara bahan CFC yang digunakan dalam pendingin, busa polyurethane (PU foam) dan pelarut (Wang dkk., 2015). BPO dapat menyebabkan berkurangnya konsentrasi ozon stratosfer dan dapat merusak lapisan ozon.
Wulandari dan Dewi (2018) menyebutkan bahwa adanya protokol montreal dapat meningkatkan konsentrasi ozon karena dapat mengontrol produksi dan konsumsi BPO. Hal tersebut selaras dengan penelitian Bornman et.al (2015) mengenai protokol Montreal yang dengan sukses mengontrol produksi dan konsumsi BPO sehingga jumlahnya di atmosfer semakin berkurang meskipun menurut Ball et.al (2018) dalam lapisan stratosfer tertentu yakni, di bawah lapisan penelitian 60° LS – 60° LU masih terdapat penurunan konsentrasi lapisan ozon.
Program penghapusan BPO dalam Protokol Montreal telah mendorong perbaikan kualitas lingkungan. Upaya penggantian teknologi HCFC disebut mendorong inovasi dalam melakukan alih teknologi yang benar-benar bersih sehingga memberikan pengaruh negatif paling minimal terhadap lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam.
Penghapusan HCFC dapat membantu mengurangi risiko masyarakat terhadap efek sosial berupa penyakit akibat dampak tidak langsung dari penipisan ozon maupun bahaya langsung dari penggunaan HCFC. Sementra itu, dari sisi lingkungan, penghapusan HCFC mendorong upaya konservasi dan pemulihan terhadap kualitas lingkungan atmosfer, dan mengurangi pemanasan global.
Berdasarkan kajian penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa kenaikan konsentrasi di langit indonesia dipengaruhi oleh penerapan protokol montreal dan pengurangan penggunaan BPO. Protokol monteral sendiri merupakan traktat atau hasil persetujuan antara negara-negara terkait penanganan perlindungan lapisan ozon.
Permasalahan ozon di Indonesia bukan hal yang masih terdengar asing, bahkan tanpa masyarakat sadari aktivitas-aktivitas merekalah yang menyebabkan permasalahan ozon di Indonesia semakin tinggi. Dibandingkan dengan konsentrasi ozon di statosfer secara global, ternyata pada beberapa kurun waktu tertentu yaitu sekitar tahun 2018 bukan hanya Indonesia saja yang mengalami peningkatan konsentrasi ozon secara drastis tetapi juga dibarengi oleh kenaikan konsentrasi ozon secara global pada rentang 2018-2019 pula. Hal tersebut dibuktikan dari adanya grafik konsentrasi ozon statosfer di selatan.
Hemisphere yang diukur berdasarkan pengukuran satelit di a lintang selatan 40ºS pada laman NASA Ozone Watch yang diterbitkan oleh Pengawasan Ozon NASA. Grafik konsentrasi ozon di statosfer tersebut adalah sebagai berikut :
Disamping terjadi peningkatan konsentrasi ozon baik di Indonesia maupun global, ternyata Indonesia bukanlah negara yang mengkonsumsi zat perusak ozon paling tinggi di dunia. Faktanya, Indonesia berhasil menurunkan konsumsi zat perusak ozon tersebut meskipun membutuhkan jangka waktu yang cukup lama. Menurut data yang diterbitkan oleh Program Lingkungan PBB, Indonesia berhasil menurunkan konsumsi zat perusak ozon dari 2006-2023 dari jumlah 554 ton menjadi 173 ton zat perusak ozon. Meskipun masih terbilang banyak, tetapi setidaknya masih terdapat pemulihan dan kesadaran masyarakat terkait dengan permasalahan ozon ini. Sedangkan untuk negara tertinggi dalam hal konsumsi zat perusak ozon adalah negara Cina dengan total zat perusak terakhir di tahun 2021 adalah sebesar 10.234 ton. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui peta konsumsi zat perusak ozon dibawah ini :
Penipisan lapisan ozon merupakan permasalahan yang menjadi perhatian serius oleh dunia. Permasalahan lapisan ozon terjadi di beberapa negara salah satunya Indonesia. Berdasarkan penyelidikan ilmiah yang sudah dilakukan, didapatkan bahwa konsentrasi ozon di langit Indonesia mengalami fluktuasi dengan kenaikan tertinggi pada tahun 2018. Peningkatan konsentrasi ozon menunjukkan kondisi yang semakin baik, sebab apabila konsentrasi ozon di lapisan stratosfer rendah, maka dapat mengakibatkan tingginya indeks UV sebagai dampak dari penipisan lapisan ozon. Kenaikan konsentrasi ozon di langit Indonesia salah satunya dipengaruhi oleh penerapan protokol montreal dan pengurangan penggunaan bahan perusak ozon (BPO). Akan tetapi, beberapa bahan BPO masih memiliki dampak yang buruk bagi lingkungan, sehingga diperlukan bahan pengganti yang benar-benar aman bagi lingkungan.
Berdasarkan data konsentrasi ozon global, konsentrasi ozon di Indonesia menunjukan terjadinya peningkatan seperti halnya yang terjadi di negara lain pada kurun waktu tertentu. Dalam hal ini, Indonesia berhasil menurunkan konsumsi zat perusak ozon dan mengurangi terjadinya penipisan lapisan ozon walaupun membutuhkan waktu yang cukup lama.
radong blas
BalasHapuswahh keren
BalasHapusmantul 👏
BalasHapusilmunya bermanfaat sekali
BalasHapus